Minggu, 18 Desember 2016

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK YANG PERLU DILAKUKAN PADA HIPERTIROID

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK YANG PERLU DILAKUKAN PADA HIPERTIROID

Alat skrining yang paling baik untuk menilai fungsi tiroid adalah kadar TSH di dalam darah. Kadar TSH darah biasanya rendah atau bahkan tidak terdeteksi pada penderita hipertiroid (<0.05 µIU/ml). Pemeriksaan antibodi yang paling spesifik untuk penyakit tiroiditis autoimun adalah enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) untuk pemeriksaan antibodi anti-TPO. Hipertiroid pada penderita lanjut usia sering ditemukan kelainan irama jantung. Elektrokardiografi (EKG) disarankan bila dicurigai ada kelainan jantung.
Pengukuran kadar TSH dan hormon tiroid darah.
Walaupun pengukuran kadar TSH darah merupakan alat skrining yang paling baik dalam menilai fungsi tiroid, namun tingkat keparahan dari hipertiroid kurang dapat dinilai berdasarkan pemeriksaan ini; kadar hormon tiroid darah juga perlu diukur. Hormon tiroid bersirkulasi di dalam darah dalam bentuk T3 dan T4, dengan 99% terikat dengan protein. Walaupun demikian hanya hormon tiroid yang tidak berikatan dengan protein yang aktif secara biologis. Pada penderita hipertiroid ditemukan hanya 5% kadar T3 yang tinggi, sehingga pengukuran T4 bebas dan T3 darah perlu dilakukan pada penderita yang dicurigai terdapat hipertiroid dengan kadar TSH yang rendah.
Hipertiroid subklinis adalah kondisi kadar TSH rendah dengan kadar hormon tiroid dalam batas normal.
Pemeriksaan antibodi anti-TPO, TSI, dan anti-Tg.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pemeriksaan antibodi yang paling spesifik untuk penyakit tiroiditis autoimun adalah pemeriksaan ELISA untuk antibodi anti-TPO. Kadar antibodi tersebut biasanya meningkat secara bermakna pada hampir seluruh penderita hipertiroid, penyakit Graves’, kecuali pada penyakit Plummer dan adenoma toksik. Namun, pada orang sehat yang tidak menderita penyakit tiroid juga dapat ditemukan antibodi anti-TPO yang positif, sehingga pemeriksaan ini kurang baik untuk dilakukan sebagai alat skrining.
Kadar TSI yang tinggi juga dapat membantu mengakkan diagnosa penyakit Graves’. Hasil antibodi anti-Tg yang positif tidak dapat memprediksi terjadinya penyakit tiroid, sehingga pemeriksaan ini tidak disarankan untuk rutin dilakukan pada penderita hipertiroid.
Sidik tiroid/Scintigraphy
Selain pemeriksaan klinis dan hasil laboratorium, sidik tiroid juga perlu dilakukan pada penderita hipertiroid untuk mengatahui nilai tangkap tiroid terhadap iodium. Nilai tangkap ini akan meningkat pada penderita penyakit Graves’ dan penyakit Plummer. I-123 dan Technetium-99m (Tc-99m) dapat digunakan untuk pemeriksaan sidik tiroid ini, yang akan memberikan informasi selain mengenai bentuk anatomi dari kelenjar tiroid (pembesaran difus atau nodular) tapi juga dapat membantu dalam mengkonfirmasi atau menyingkirkan adanya kemungkinan suatu hipertiroid berdasarkan kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap iodium.
Penyakit Graves’ biasanya disertai dengan pembesaran kedua lobi tiroid dengan peningkatan nilai tangkap. Adenoma toksik akan memberikan gambaran nodule “panas” tunggal dengan fungsi yang menurun pada jaringan tiroid di sekitarnya. Penyakit Plummer memberikan gambaran pembesaran kelenjar tiroid dengan beberapa nodul dan penangkapan radiofarmaka yang bervariasi. Tiroiditis subakut biasanya memberikan gambaran penangkapan radiofarmaka yang sangat rendah. (lihat gambar).
Bila ditemukan nodul tiroid pada pemeriksaan fisik penderita hipertiroid, maka perlu dilakukan sidik tiroid untuk mengkonfirmasi apakah nodul tersebut hiperfungsi atau tidak. Bila ditemukan nodul “dingin”, maka perlu dilakukan biopsi untuk menyingkirkan kemungkinan adanya suatu keganasan.
Alat skrining yang paling baik untuk menilai fungsi tiroid adalah kadar TSH di dalam darah. Kadar TSH darah biasanya rendah atau bahkan tidak terdeteksi pada penderita hipertiroid (<0.05 µIU/ml). Pemeriksaan antibodi yang paling spesifik untuk penyakit tiroiditis autoimun adalah enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) untuk pemeriksaan antibodi anti-TPO. Hipertiroid pada penderita lanjut usia sering ditemukan kelainan irama jantung. Elektrokardiografi (EKG) disarankan bila dicurigai ada kelainan jantung.
Pengukuran kadar TSH dan hormon tiroid darah.
Walaupun pengukuran kadar TSH darah merupakan alat skrining yang paling baik dalam menilai fungsi tiroid, namun tingkat keparahan dari hipertiroid kurang dapat dinilai berdasarkan pemeriksaan ini; kadar hormon tiroid darah juga perlu diukur. Hormon tiroid bersirkulasi di dalam darah dalam bentuk T3 dan T4, dengan 99% terikat dengan protein. Walaupun demikian hanya hormon tiroid yang tidak berikatan dengan protein yang aktif secara biologis. Pada penderita hipertiroid ditemukan hanya 5% kadar T3 yang tinggi, sehingga pengukuran T4 bebas dan T3 darah perlu dilakukan pada penderita yang dicurigai terdapat hipertiroid dengan kadar TSH yang rendah.
Hipertiroid subklinis adalah kondisi kadar TSH rendah dengan kadar hormon tiroid dalam batas normal.
Pemeriksaan antibodi anti-TPO, TSI, dan anti-Tg.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pemeriksaan antibodi yang paling spesifik untuk penyakit tiroiditis autoimun adalah pemeriksaan ELISA untuk antibodi anti-TPO. Kadar antibodi tersebut biasanya meningkat secara bermakna pada hampir seluruh penderita hipertiroid, penyakit Graves’, kecuali pada penyakit Plummer dan adenoma toksik. Namun, pada orang sehat yang tidak menderita penyakit tiroid juga dapat ditemukan antibodi anti-TPO yang positif, sehingga pemeriksaan ini kurang baik untuk dilakukan sebagai alat skrining.
Kadar TSI yang tinggi juga dapat membantu mengakkan diagnosa penyakit Graves’. Hasil antibodi anti-Tg yang positif tidak dapat memprediksi terjadinya penyakit tiroid, sehingga pemeriksaan ini tidak disarankan untuk rutin dilakukan pada penderita hipertiroid.
Sidik tiroid/Scintigraphy
Selain pemeriksaan klinis dan hasil laboratorium, sidik tiroid juga perlu dilakukan pada penderita hipertiroid untuk mengatahui nilai tangkap tiroid terhadap iodium. Nilai tangkap ini akan meningkat pada penderita penyakit Graves’ dan penyakit Plummer. I-123 dan Technetium-99m (Tc-99m) dapat digunakan untuk pemeriksaan sidik tiroid ini, yang akan memberikan informasi selain mengenai bentuk anatomi dari kelenjar tiroid (pembesaran difus atau nodular) tapi juga dapat membantu dalam mengkonfirmasi atau menyingkirkan adanya kemungkinan suatu hipertiroid berdasarkan kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap iodium.
Penyakit Graves’ biasanya disertai dengan pembesaran kedua lobi tiroid dengan peningkatan nilai tangkap. Adenoma toksik akan memberikan gambaran nodule “panas” tunggal dengan fungsi yang menurun pada jaringan tiroid di sekitarnya. Penyakit Plummer memberikan gambaran pembesaran kelenjar tiroid dengan beberapa nodul dan penangkapan radiofarmaka yang bervariasi. Tiroiditis subakut biasanya memberikan gambaran penangkapan radiofarmaka yang sangat rendah. (lihat gambar).
Bila ditemukan nodul tiroid pada pemeriksaan fisik penderita hipertiroid, maka perlu dilakukan sidik tiroid untuk mengkonfirmasi apakah nodul tersebut hiperfungsi atau tidak. Bila ditemukan nodul “dingin”, maka perlu dilakukan biopsi untuk menyingkirkan kemungkinan adanya suatu keganasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar